Sedekah Bumi Desa Pakisputih 2026 Berlangsung Meriah, Kirab Gunungan dan Wayang Kulit Jadi Simbol Pelestarian Budaya Jawa

Terkini 15 May 2026 21:32 4 min read 15 views By Andy Dayak
Sedekah Bumi Desa Pakisputih 2026 Berlangsung Meriah, Kirab Gunungan dan Wayang Kulit Jadi Simbol Pelestarian Budaya Jawa
Tradisi tahunan Desa Pakisputih, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, berlangsung khidmat dan meriah dengan iringan gunungan, pagelaran wayang kulit, serta antusiasme tinggi masyarakat dalam menjaga warisan budaya leluhur.

Pekalongan | Rakyatcerdas.my.id — Tradisi Sedekah Bumi Desa Pakisputih tahun 2026 digelar kembali dengan penuh semarak dan nuansa budaya Jawa yang kental. Kegiatan yang menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Pakisputih, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan tersebut dipusatkan di lapangan belakang Balai Desa Pakisputih, Jumat malam (15/5/2026).

 

Acara budaya yang sarat nilai tradisi itu diawali dengan kirab gunungan dari arah selatan desa menuju Balai Desa Pakisputih. Iringan gunungan yang membawa hasil bumi serta aneka kreasi masyarakat dari masing-masing RT berjalan meriah diiringi antusias warga yang memadati sepanjang jalan desa.

 

Sekitar pukul 20.23 WIB, rombongan kirab gunungan tiba di Balai Desa Pakisputih dan langsung disambut serta diterima secara simbolis oleh Kepala Desa Pakisputih bersama jajaran perangkat desa. Prosesi tersebut berlangsung khidmat dan menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki serta harapan keselamatan bagi seluruh warga desa.

 

Kegiatan Sedekah Bumi tahun ini turut menghadirkan unsur Forkopimcam Kedungwuni, tokoh, tokoh masyarakat agama, pemuda desa, serta ratusan warga yang datang untuk menyaksikan rangkaian acara budaya hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

 

Pada malam acara puncak, masyarakat disuguhkan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Mangun Yuwono, S.Sn dari Kabupaten Pemalang yang membawakan lakon “Wahyu Tohjali”. Pertunjukan budaya tersebut menjadi daya tarik utama dan mendapat berbagai hal luar biasa dari masyarakat.

 

Kepala Desa Pakisputih, Soedomo dalam keterangannya menyampaikan bahwa sedekah bumi merupakan tradisi warisan nenek moyang yang terus dilestarikan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa.

 

"Sedekah bumi ini sudah menjadi tradisi tahunan dari nenek moyang kami. Setiap tahun tetap kami laksanakan, namun untuk pagelaran wayang kulit biasanya dua tahun sekali. Kalau tahun yang tidak ada wayang, biasanya hanya selamatan atau doa bersama," ujarnya.

 

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekedar hiburan rakyat, melainkan juga memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat desa.

 

“Tujuan kegiatan ini karena kami ingin budaya Jawa tetap terurus dan tidak hilang. Oleh karena itu seluruh warga masyarakat sepakat untuk terus mengadakan pagelaran wayang kulit sebagai bagian dari pelestarian budaya,” katanya.

 

Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas tingginya partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan sedekah bumi tahun ini. Antusiasme warga terlihat sejak proses persiapan hingga pelaksanaan acara.

 

“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias karena ini memang sudah menjadi tradisi tahunan. Warga juga merasa senang dengan adanya kegiatan seperti ini. Bahkan untuk mendukung anggaran acara, masyarakat ikut iuran sekitar Rp.50 ribu per rumah,” jelasnya.

 

Rangkaian kegiatan sedekah bumi sendiri telah dimulai sejak malam sebelumnya melalui kegiatan tirakatan dan selametan bersama warga sebagai bentuk doa demi keselamatan serta keberkahan desa.

 

Sementara itu, pemilihan lakon “Wahyu Tohjali” dalam pagelaran wayang kulit tahun ini disebut memiliki filosofi mendalam tentang pentingnya membersihkan hati dan pikiran agar manusia mampu menjadi pribadi yang lebih baik.

 

“Lakon Wahyu Tohjali ini memiliki pesan tentang membersihkan hati dan pikiran. Kalau kita ingin menjadi pribadi yang baik, maka hati dan pikiran juga harus dibersihkan,” tutur Kepala Desa Pakisputih.

 

Ia menambahkan, selama ini pihak desa memang sering memilih lakon-lakon bertema “wahyu” karena diyakini mengandung nilai moral dan energi positif bagi masyarakat.

 

“Kami berharap melalui lakon ini masyarakat Desa Pakisputih bisa mendapatkan energi positif dan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

 

Pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga dini hari tersebut menjadi bukti bahwa tradisi budaya Jawa masih hidup dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Tidak hanya menjadi hiburan, kegiatan sedekah bumi juga menjadi ruang mempererat persaudaraan, gotong royong, serta identitas masyarakat budaya Desa Pakisputih.

 

Dengan mengusung semangat “Merawat Bumi, Melestarikan Tradisi”, masyarakat berharap kegiatan budaya tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi muda agar nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap terjaga sepanjang masa.

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp