Pagelaran Wayang Golek “Lelungan & Sedekah Bumi” Semarakkan Malam Budaya di Tangkilkulon

Terkini 15 May 2026 21:12 3 min read 6 views By Andy Dayak
Pagelaran Wayang Golek “Lelungan & Sedekah Bumi” Semarakkan Malam Budaya di Tangkilkulon
Tradisi Sedekah Bumi Dikemas Lewat Seni Wayang Golek, Warga Tangkilkulon Antusias Lestarikan Warisan Budaya Jawa

Pekalongan | rakyatcerdas.my.id – Suasana malam di Desa Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jumat (15/5/2026), tampak berbeda dari biasanya. Halaman Balai Desa Tangkilkulon dipadati masyarakat yang antusias menghadiri pagelaran wayang golek dalam rangka kegiatan “Lelungan & Sedekah Bumi”, sebuah tradisi budaya yang hingga kini masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

 

Kegiatan budaya tersebut menghadirkan Dalang Ki Wahyudin dari Batang, Jawa Tengah, dengan lakon bertajuk “Wisanggeni Gugat”. Pagelaran dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan menjadi magnet hiburan sekaligus sarana pelestarian budaya tradisional di tengah arus modernisasi yang semakin berkembang.

 

Berdasarkan pantauan di lokasi, masyarakat dari berbagai kalangan tampak mulai berdatangan sejak sore hari. Tidak hanya warga Desa Tangkilkulon, sejumlah penonton dari desa sekitar juga turut hadir untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang sarat pesan moral tersebut.

 

Kepala Desa Tangkilkulon, Muhammad Khusnan, dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa kegiatan sedekah bumi bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi, keselamatan, serta keberkahan yang diberikan kepada warga desa.

 

Menurutnya, pelaksanaan pagelaran wayang golek dipilih karena memiliki nilai edukasi budaya sekaligus menjadi media pemersatu masyarakat. Tradisi semacam ini dinilai penting untuk terus dirawat agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Jawa.

 

“Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Di dalamnya terdapat pesan moral, nilai kehidupan, hingga filosofi tentang kebersamaan dan kebijaksanaan,” ujarnya di sela kegiatan.

 

Pagelaran tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah desa dalam menjaga eksistensi seni tradisional di tengah dominasi hiburan digital. Kehadiran dalang senior seperti Ki Wahyudin dinilai mampu memberikan warna tersendiri bagi masyarakat yang masih mencintai kesenian tradisional nusantara.

 

Lakon “Wisanggeni Gugat” sendiri dikenal sebagai cerita pewayangan yang mengandung kritik sosial, keberanian, dan perjuangan menegakkan keadilan. Pesan-pesan filosofis dalam cerita itu dinilai relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini.

 

Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan sedekah bumi juga membawa dampak positif terhadap perputaran ekonomi warga. Sejumlah pedagang makanan, minuman, hingga pelaku UMKM lokal tampak memanfaatkan momentum tersebut untuk berjualan di sekitar area pertunjukan.

 

Antusiasme masyarakat yang tinggi menunjukkan bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Bahkan, banyak warga berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan secara rutin sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus zaman.

 

Dengan digelarnya pagelaran wayang golek tersebut, Desa Tangkilkulon kembali menegaskan komitmennya dalam merawat nilai budaya dan tradisi lokal sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Kabupaten Pekalongan.

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp