Jawaban Kades Jajarwayang Saat Dikonfirmasi Wartawan Soal Wayang Santri Jadi Sorotan

Terkini 09 May 2026 01:19 3 min read 30 views By Andy Dayak
Jawaban Kades Jajarwayang Saat Dikonfirmasi Wartawan Soal Wayang Santri Jadi Sorotan
Respons Kepala Desa Jajarwayang, Nur Faizin, yang terkesan enggan saat dikonfirmasi wartawan rakyatcerdas.my.id terkait Pagelaran Wayang Santri pada Jumat malam (8/5/2026), kini menjadi perhatian publik setelah acara budaya tersebut ramai diperbincangkan masyarakat.

KABUPATEN PEKALONGAN | rakyatcerdas.my.id – Pagelaran Wayang Santri yang digelar di depan Balai Desa Jajarwayang, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jumat malam (8/5/2026), menjadi sorotan masyarakat. Selain karena acara budaya tersebut menyedot perhatian warga, sikap Kepala Desa Jajarwayang, Nur Faizin, saat dikonfirmasi wartawan rakyatcerdas.my.id sebelum kegiatan berlangsung juga menuai beragam tanggapan.

 

Peristiwa itu bermula ketika wartawan rakyatcerdas.my.id mencoba melakukan konfirmasi melalui sambungan telepon kepada Kepala Desa Jajarwayang terkait kegiatan Pagelaran Wayang Santri yang digelar dalam rangka Sedekah Bumi desa.

 

Dalam percakapan singkat tersebut, Nur Faizin memberikan jawaban menggunakan bahasa Jawa yang dinilai terkesan santai dan enggan jika kegiatan tersebut diliput media.

 

“Sing arep diliput opo... wong pengajian wayang cilikan,” ujar Nur Faizin kepada wartawan rakyatcerdas.my.id melalui sambungan telepon.

 

Kalimat tersebut jika diterjemahkan secara umum memiliki arti, “Mau meliput apa... hanya pengajian wayang kecil.” Ucapan itu kemudian menjadi perhatian warga karena dianggap menunjukkan sikap kurang antusias terhadap peliputan kegiatan budaya yang digelar pemerintah desa bersama masyarakat.

 

Padahal, Pagelaran Wayang Santri malam itu diketahui menjadi salah satu agenda budaya yang cukup besar di Desa Jajarwayang. Acara dipusatkan di depan Balai Desa Jajarwayang dan dihadiri ratusan warga dari berbagai dukuh yang antusias menyaksikan pertunjukan seni tradisional bernuansa religius tersebut.

 

Dalam poster kegiatan yang beredar, pagelaran menghadirkan dalang KH Basuki Rahmat dari Glagah dengan tema “Menghidupkan Warisan Leluhur, Menjaga Nilai-nilai Kebijaksanaan Nusantara”. Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan itu juga dimaksudkan sebagai upaya pelestarian budaya Jawa yang dipadukan dengan nilai-nilai dakwah Islam.

 

Sejak sore hari, rangkaian acara telah dimulai dengan doa bersama dan kegiatan keagamaan lainnya sebelum memasuki puncak pertunjukan wayang santri pada malam hari. Warga tampak memadati area pertunjukan dan menikmati suasana budaya yang berlangsung hingga larut malam.

 

Namun di tengah jalannya acara, suasana mendadak berubah ketika salah seorang penabuh gendang dilaporkan mengalami kondisi tidak sadar sebelum akhirnya meninggal dunia. Insiden tersebut membuat pagelaran dihentikan dan menjadi perhatian luas masyarakat Kabupaten Pekalongan.

 

Sejumlah warga kemudian kembali menyoroti komunikasi awal antara wartawan dan kepala desa sebelum kegiatan berlangsung. Ada yang menilai jawaban Nur Faizin hanya bentuk candaan khas pedesaan, namun ada pula yang menganggap sikap tersebut mencerminkan keengganan terhadap peliputan media.

 

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Jajarwayang, Nur Faizin, belum memberikan penjelasan lebih lanjut terkait maksud pernyataannya maupun insiden yang terjadi di tengah pagelaran wayang santri tersebut.

 

Budayawan lokal yang dimintai tanggapan rakyatcerdas.my.id mengatakan bahwa kegiatan budaya desa sejatinya memiliki nilai penting untuk dipublikasikan karena menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat.

 

“Wayang santri bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan budaya dan spiritual masyarakat. Publikasi media justru dapat membantu mengenalkan tradisi lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

 

Menurutnya, hubungan antara pemerintah desa dan media seharusnya dibangun secara terbuka dan saling mendukung, terutama dalam pelestarian kegiatan budaya masyarakat.

 

Kini, Pagelaran Wayang Santri Desa Jajarwayang tidak hanya dikenang sebagai malam budaya dan tradisi, tetapi juga menjadi perbincangan publik setelah ucapan Kepala Desa Nur Faizin kepada wartawan rakyatcerdas.my.id dianggap terkesan enggan terhadap peliputan acara tersebut.

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp