Ratusan Warga Padati Ruat Bumi Desa Windurojo, Wayang Kulit Jadi Perekat Budaya dan Kebersamaan

Terkini 11 May 2026 21:19 3 min read 15 views By Wito Andriyanto
Ratusan Warga Padati Ruat Bumi Desa Windurojo, Wayang Kulit Jadi Perekat Budaya dan Kebersamaan
Kepala Desa Rohmat Tekankan Pentingnya Kerukunan Warga untuk Mendorong Kemajuan Pembangunan Desa

Pekalongan | rakyatcerdas.my.id — Tradisi budaya Ruat Bumi kembali digelar masyarakat Desa Windurojo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, dengan penuh khidmat dan kemeriahan, Senin malam, 11 Mei 2026. Kegiatan yang dipusatkan di halaman Kantor Balai Desa Windurojo itu menjadi ajang silaturahmi masyarakat sekaligus bentuk pelestarian budaya warisan leluhur yang masih dijaga hingga saat ini.

 

Puncak acara diisi dengan pentas wayang kulit semalam suntuk bersama Ki Dalang Joko Setiyo Pranolo yang membawakan lakon Wahyu Cahyo Bawono. Pertunjukan tersebut sukses menyedot perhatian masyarakat dari berbagai wilayah di Kecamatan Kesesi.

 

Berdasarkan susunan acara yang disiapkan panitia, kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan dari panitia penyelenggara, Kepala Desa Windurojo Rohmat, hingga Camat Kesesi. Selanjutnya dilakukan prosesi simbolis penyerahan tokoh wayang dari kepala desa kepada dalang sebelum pagelaran dimulai.

 

Kegiatan budaya tahunan itu turut dihadiri jajaran Forkopimcam Kesesi, di antaranya Camat Kesesi Fuadi Jaman, A.P, Danramil Kesesi 05 Kapten CPL Ris Wiharno, S.A.N bersama anggota, Kapolsek Kesesi IPTU Kusdiyanto Winarto, S.H beserta jajaran, Ketua BPD, LPMD, tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat RT/RW, linmas, serta masyarakat umum.

 

Nuansa kebersamaan tampak begitu kuat sepanjang kegiatan berlangsung. Warga dari berbagai kalangan terlihat antusias memadati area pertunjukan sejak sore hingga malam hari. Tidak sedikit masyarakat yang rela bertahan hingga larut malam demi menikmati pertunjukan wayang kulit yang sarat nilai filosofi dan pesan moral kehidupan.

 

Dalam sambutannya, Kepala Desa Windurojo, Rohmat, menyampaikan bahwa ruat bumi bukan hanya agenda seremonial tahunan, melainkan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat, keselamatan, dan keberkahan yang diterima desa selama ini.

 

Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga sekaligus menjaga tradisi agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman.

 

“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Ini bukti bahwa budaya masih dicintai warga. Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah membantu, baik tenaga, pikiran, maupun dukungan keuangan sehingga kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik,” ujar Rohmat.

 

Ia juga menegaskan bahwa semangat gotong royong menjadi fondasi penting dalam membangun desa. Dengan kerukunan dan kebersamaan, kata dia, pembangunan desa akan lebih mudah diwujudkan.

 

“Kalau masyarakat tetap rukun, insyaallah pembangunan desa akan berjalan lebih baik. Harapan kami, kebersamaan seperti ini terus terjaga demi kemajuan Windurojo ke depan,” imbuhnya.

 

Sementara itu, keberadaan aparat TNI-Polri dan Forkopimcam dalam kegiatan tersebut memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang hadir. Acara berlangsung tertib, aman, dan kondusif hingga akhir pertunjukan.

 

Tradisi ruat bumi sendiri merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa yang hingga kini masih lestari di sejumlah desa di Kabupaten Pekalongan. Selain menjadi media hiburan rakyat, kegiatan tersebut juga mengandung nilai spiritual, sosial, dan budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat pedesaan.

 

Melalui pagelaran wayang kulit dan tradisi ruat bumi, masyarakat Desa Windurojo berharap budaya lokal tetap hidup dan mampu diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa.

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp