Plt Bupati Sukirman Resmikan Harmoni Syawalan Linggoasri, Ribuan Nasi Megono Dibagikan untuk Warga
KAJEN | rakyatcerdas.my.id – Suasana penuh kebersamaan dan nuansa tradisi mewarnai perayaan Syawalan di Objek Wisata Linggoasri, Kabupaten Pekalongan. Dalam momentum tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, secara resmi membuka kegiatan Harmoni Syawalan yang ditandai dengan pembagian ribuan nasi megono kepada masyarakat, Jum'at, 27/3.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda tahunan yang selalu dinanti warga, terutama setelah Hari Raya Idul Fitri. Ribuan masyarakat dari berbagai wilayah tampak memadati lokasi acara sejak pagi hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang sarat nilai budaya dan religius.
Dalam sambutannya, Sukirman menyampaikan bahwa tradisi Syawalan bukan sekedar seremoni rutin, melainkan wujud rasa syukur sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan budaya lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Syawalan ini menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan mempererat persaudaraan.Tradisi seperti ini harus kita jaga karena menjadi identitas daerah,” ujarnya.
Pembagian nasi megono dalam jumlah besar menjadi daya tarik utama dalam kegiatan tersebut. Megono sendiri merupakan kuliner khas Pekalongan yang berbahan dasar nangka muda dengan campuran parutan kelapa berbumbu, yang telah dikenal luas sebagai simbol kebersamaan dan kebersamaan masyarakat setempat.
Warga tampak antusias menerima nasi bungkus megono yang dibagikan secara gratis. Tidak sedikit dari mereka yang rela antre demi mendapatkan bagiannya, bahkan menjadikan momen ini sebagai tradisi tahunan bersama keluarga.
Selain pembagian makanan, acara juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni tradisional dan kirab budaya yang menambah suasana semarak. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya pemerintah daerah dalam mengangkat potensi wisata dan budaya lokal agar semakin dikenal luas.
Sekadar informasi, tradisi Syawalan di Linggoasri identik dengan kirab gunungan megono dan hasil bumi yang melibatkan partisipasi dari berbagai kecamatan. Tradisi ini biasanya diadakan sepekan setelah Idul Fitri dan menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen serta keberkahan yang diterima masyarakat.
Melalui kegiatan Harmoni Syawalan ini, Pemerintah Kabupaten Pekalongan berharap nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya lokal dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus menjadi daya tarik wisata unggulan di daerah.