Wisuda ke-19 TPQ dan ke-15 Madin, 51 Santri An Najah Tirto Tunjukkan Kemampuan Baca Alquran hingga Kitab Kuning
PEKALONGAN | rakyatcerdas.my.id – Suasana haru dan pelestarian melestarikan kegiatan wisuda santri Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin) An Najah, Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. Pada periode tahun ajaran 2026 ini, sebanyak 51 santriwan dan santriwati resmi diwisuda dalam gelaran wisuda ke-19 untuk TPQ dan ke-15 untuk Madin.

Kepala TPQ An Najah, Sonhaji, menyampaikan bahwa para santri yang diwisuda telah melalui proses pembelajaran yang terstruktur sesuai jenjang masing-masing. Untuk tingkat TPQ, para santri dibekali kemampuan membaca Alquran, memahami tajwid, serta dasar-dasar ilmu keagamaan.
“Untuk tingkat TPQ, anak-anak belajar membaca Alquran dengan baik dan benar, termasuk tajwidnya. Alhamdulillah mereka sudah lancar, bahkan tampil percaya diri saat wisuda,” ujar Sonhaji.

Sementara itu, untuk tingkat Madin, metode pembelajaran yang digunakan telah berkembang dengan mengadopsi metode cepat membaca kitab kuning, yaitu metode Amtsilati yang telah digunakan lebih dari lima tahun terakhir.
“Alhamdulillah, santri Madin yang lulus sekarang sudah mampu membaca kitab kuning atau kitab gundul. Ini menjadi pencapaian penting dalam pendidikan keagamaan,” tambahnya.
Dalam proses wisuda, pihak TPQ dan Madin juga memberikan penghargaan kepada santri berprestasi, mulai dari peringkat satu dan dua di masing-masing jenjang, hingga kategori wisudawan termuda. Bahkan masih terdapat santri yang masih duduk di bangku kelas 1 dan 2 SD namun sudah mampu menyelesaikan pendidikan diniyah.
Tak hanya itu, kemeriahan acara semakin terasa dengan digelarnya kirab wisudawan yang mengelilingi kampung. Kegiatan ini dimeriahkan oleh penampilan drumband dari MTs Al Muttaqin Medono dengan sekitar 60 personel serta marching band Sorban Ansor dari Karanganyar Tirto yang juga melibatkan sekitar 60 anggota.
“Kirab ini sudah menjadi agenda rutin setiap tahun sebagai bentuk syiar dan kebanggaan santri kepada masyarakat,” jelas Sonhaji.
Ia menambahkan, durasi pendidikan di TPQ maupun Madin rata-rata ditempuh selama dua tahun. Setelah lulus, para santri umumnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan banyak yang meneruskan ke pondok pesantren untuk memperdalam ilmu agama, khususnya kitab kuning.
Sementara itu, Ketua Yayasan, Budi Utomo, ST, MT, mengungkapkan bahwa lembaga perkembangan pendidikan di bawah naungan yayasan menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun, dikelola secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.
“Yayasan kami bergerak dari berbagai lini, mulai dari masjid, PAUD, TPQ, Madin, hingga usaha kecil UMKM. Semua itu menjadi penopang kegiatan pendidikan agar tetap berjalan mandiri,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kondisi sarana prasarana terus mengalami peningkatan. Bangunan yang sebelumnya terdampak banjir kini telah dikembangkan menjadi dua lantai, serta fasilitas masjid yang semakin luas dengan jumlah jamaah mencapai lebih dari 100 orang.
Dari sisi tenaga pengajar, sebagian besar berasal dari alumni serta mahasiswa, terutama dari perguruan tinggi keagamaan seperti UIN, yang turut mengabdi sambil mengembangkan pengalaman mengajar.
“Kami memang belum mampu memberikan gaji besar, tetapi semangat pengabdian menjadi kekuatan utama. Kegiatan belajar mengajar dilakukan pada sore hari, mulai pukul 16.00 hingga 17.30 WIB,” jelasnya.
Ke depan, yayasan berencana mengembangkan lembaga pendidikan formal, baik tingkat SMP maupun SMA, bahkan memfokuskan pada konsep sekolah berasrama guna memperkuat pendidikan berbasis agama.
“Harapan kami, pendidikan ke depan tetap menjadikan agama sebagai landasan utama. Kami ingin menghadirkan sistem asrama agar pelatihan santri lebih maksimal,” Budi.
Ia juga berharap adanya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam mendukung kemajuan pendidikan keagamaan di wilayah Tirto dan sekitarnya.
Dengan berbagai prestasi dan inovasi yang terus dikembangkan, TPQ dan Madin An Najah Tirto diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga kuat dalam nilai-nilai keagamaan.