Slapanan “Merajut Ranting Cinta”, Ikhtiar Kolektif Menjaga Warisan Budaya di Wiradesa

Terkini 04 May 2026 21:53 3 min read 9 views By Andy Dayak
Slapanan “Merajut Ranting Cinta”, Ikhtiar Kolektif Menjaga Warisan Budaya di Wiradesa
Tokoh budaya, pemerintah, dan komunitas bersatu dalam forum “Gendhu-Gendhu Roso Budaya”, meneguhkan arah pelestarian tradisi di tengah tantangan zaman

Pekalongan | Rakyatcerdas.my.id  — Upaya merawat dan meneguhkan eksistensi budaya lokal kembali diwujudkan melalui forum Slapanan bertajuk “Merajut Ranting Cinta” yang digelar di Petukangan, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Senin (4/5/2026) malam. Kegiatan yang dikemas dalam nuansa “Gendhu-Gendhu Roso Budaya” ini menjadi ruang dialektika antara nilai tradisi, spiritualitas, dan tantangan modernitas.

 

Acara dipandu oleh Maizun sebagai pembawa acara yang dengan khasnya menghidupkan suasana penuh makna. Ia membuka kegiatan dengan pengantar filosofis yang mengibaratkan budaya sebagai “batang pohon Wisnu” yang terus merajut ranting-ranting cinta bagi generasi penerus. Dalam balutan bahasa kultural dan spiritual, acara diawali dengan doa bersama, pembacaan Surat Al-Fatihah, serta sekapur sirih sebagai simbol penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.

 

Hadir dalam kegiatan tersebut tokoh budaya Wahyu Kuncoro, S.T., M.T., Camat Wiradesa Drs. Sugino, M.Si., Gus Mansyur dari Kajen, perwakilan Gerakan Patriotisme, serta masyarakat pecinta budaya dari berbagai kalangan. Kehadiran lintas elemen ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan kerja kolektif yang harus terus dijaga.

 

Dalam sambutannya, Camat Wiradesa menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan budaya sebagai identitas masyarakat. Ia mengapresiasi komunitas budaya yang masih konsisten “nguri-uri” tradisi di tengah derasnya arus perubahan.

 

“Kita patut bersyukur masih ada rekan-rekan yang peduli terhadap budaya. Kalau tidak ada yang menjaga, kita bisa kehilangan sejarah dan jati diri kita sendiri,” ungkapnya.

 

Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu pesat berpotensi menggeser perhatian generasi muda dari budaya lokal. Oleh karena itu, forum seperti ini menjadi penting sebagai ruang edukasi dan refleksi bersama.

 

Lebih lanjut, ia mengangkat pentingnya penelusuran sejarah lokal yang selama ini belum tergali secara menyeluruh, termasuk sejarah batik Pekalongan yang memiliki akar panjang dan kompleks. Ia bahkan menyinggung pengalaman mengikuti kompetisi budaya hingga tingkat internasional, yang menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki nilai global jika dikelola dengan baik.

 

Sementara itu, Wahyu Kuncoro dalam pemaparannya mengajak peserta untuk memahami budaya tidak hanya sebagai praktik lahiriah, tetapi juga sebagai jalan spiritual. Ia mengutip filosofi “man arofa nafsahu arofa robbah” yang menegaskan bahwa mengenal diri adalah kunci mengenal Tuhan.

 

“Budaya adalah cermin kesadaran manusia. Dari sanalah lahir nilai, makna, dan arah kehidupan,” ujarnya.

 

Ia juga mengulas dinamika sejarah masyarakat Pekalongan, termasuk keberadaan komunitas “wong kalang” yang memiliki karakter mandiri dan adaptif. Menurutnya, akulturasi budaya yang terjadi selama berabad-abad telah membentuk identitas masyarakat yang unik, termasuk dalam aspek ekonomi dan kreativitas.

 

Maizun sebagai moderator turut menekankan bahwa budaya sejatinya hadir dalam seluruh aspek kehidupan. Ia mengajak peserta untuk melihat budaya sebagai kompas yang memberi arah, bukan sekadar sudut pandang yang sempit.

 

“Budaya itu hidup dalam setiap profesi—petani, pembatik, guru, ulama. Semua adalah rangkaian nilai yang harus kita rawat bersama,” tuturnya.

 

Forum ini juga memberi ruang kepada generasi muda, termasuk dari Gerakan Patriotisme, untuk menyampaikan gagasan mereka. Hal ini menjadi penting sebagai bagian dari proses regenerasi, agar nilai-nilai budaya tidak terputus, melainkan terus berkembang sesuai zaman.

 

Dengan semangat “Merajut Ranting Cinta”, kegiatan ini menjadi simbol bahwa budaya harus terus ditumbuhkan, tidak hanya dijaga. Sebab di tengah perubahan zaman, hanya dengan kesadaran kolektif dan komitmen bersama, budaya lokal dapat tetap hidup dan menjadi penuntun bagi masa depan generasi bangsa.

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp