Waduh ! Dana Desa Disorot, Nasron Malah Diteror: Kritik Keras Berujung Ancaman Misterius

Kriminal & Hukum 02 May 2026 22:29 3 min read 86 views By Andy Dayak
Waduh ! Dana Desa Disorot, Nasron Malah Diteror: Kritik Keras Berujung Ancaman Misterius
Program miliaran dibilang “nggak ngaruh”, eh yang ngomong malah kena ancam—warga Paninggaran jadi ikut geleng-geleng

Pekalongan | rakyatcerdas.my.id — Kisah panas datang dari Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Bukannya adem, urusan Dana Desa (DD) malah bikin “nggak santai”. Gara-gara kritik pedas soal program desa yang dinilai kurang greget, seorang tokoh masyarakat justru mengaku kena teror!

 

Adalah Mohammad Nasron, tokoh masyarakat Kabupaten Pekalongan, yang blak-blakan mengungkap dugaan program desa yang dinilai hanya “seremonial doang”. Tapi siapa sangka, setelah omongannya viral, malah ada yang nggak terima dan diduga ngasih ancaman.

 

Cerita ini bermula usai Nasron ikut audiensi dengan Plt. Bupati Pekalongan di Aula Lantai II Gedung Bupati, Rabu sore, 29 April 2026. Bukannya pulang dengan santai, eh malah melanjutkan cerita panas ke publik.

 

Menurut Nasron, persoalan ini bukan masalah baru kemarin. “Sejak 2022 sudah kelihatan. Tapi 2024 ini makin kelihatan jelas, banyak program yang kayak cuma buat ngabisin anggaran, bukan buat manfaat masyarakat,” celetuknya.

 

Nah, ini dia yang bikin publik garuk-garuk kepala. Di Desa Tanggeran, ada program pakan ternak Rp.52 juta. Katanya sih jalan, tapi manfaatnya? Hmm… tanda tanya besar.

 

Geser ke Desa Tenogo, lebih bikin dahi berkerut. Anggaran olahraga Rp50 juta, tapi mainnya cuma sekali, pun sekitar Rp.25 juta. Sisanya ke mana? Warga cuma bisa bilang, “Lho kok gitu?”

 

Belum lagi program bibit ikan dan kolam Rp98 juta yang katanya… gak jadi jalan. Program hidroponik dan bibit sayur juga disebut hanya formalitas, alias “yang penting ada kegiatan”.

 

Di Desa Lumeneng, program ketahanan pangan malah zonk—nggak panen. Sementara di Kaliboja, wisata sudah dibangun, tapi sepi kayak nggak ada yang tahu.

 

Yang paling bikin miris, program ternak bebek petelur di Desa Lambanggelun. Anggaran Rp.81 jutaan, tapi sekarang? “Tinggal kandangnya doang,” kata Nasron. Waduh!

 

Nasron pun menilai, pola ini menunjukkan program desa lebih fokus “nyerap anggaran” daripada hasil nyata. “Jangan cuma ngabisin duit, tapi nggak ada manfaatnya. Rakyat butuh hasil, bukan laporan doang,” tegasnya.

 

Eh, tapi cerita belum selesai. Setelah semua ini viral di masyarakat Paninggaran, Nasron mengaku mendapat ancaman dari seseorang yang berinisial B. Isi pesannya cukup bikin merinding.

 

“Kalau mengusik kepala desa, orang saya, berhadapan dengan saya,” begitu kutipan ancaman yang diterima.

 

Duh, dari kritik jadi thriller !

Meski begitu, Nasron santai tapi tegas. Dia bilang tidak akan mundur. “Ini demi transparansi. Kalau salah ya harus dibenahi,” ujarnya.

 

Ia juga menyinggung tahun 2025 yang ternyata masih ada program yang belum jalan. Misalnya pelatihan menjahit di Desa Werdi Rp.37,5 juta yang belum terealisasi. Ditambah lagi penyertaan modal BUMDes di Tenogo Rp.170 jutaan yang juga jadi sorotan.

 

Nasron pun kasih “peringatan” ke tim pemantauan kecamatan: jangan buru-buru cairkan anggaran baru kalau laporan lama belum beres. “Jangan sampai duit jalan, tapi laporan masih jalan di tempat,” katanya, nyeletuk tapi ngena.

 

Pada akhirnya, ia mendorong Inspektorat segera turun tangan. “Harus dicek, dibina, biar ke depan nggak kayak gini lagi,” tutupnya.

 

Kini, warga cuma bisa berharap—jangan sampai Dana Desa yang harusnya bikin sejahtera, malah jadi bahan cerita “drama desa” yang bikin geleng kepala.

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp