Sedekah Bumi Desa Gandarum Hadirkan Pagelaran Wayang Kulit, Warga Kompak Biayai Swadaya Rp.133 Juta

Terkini 17 May 2026 19:44 4 min read 25 views By Andy Dayak

Share berita ini

Sedekah Bumi Desa Gandarum Hadirkan Pagelaran Wayang Kulit, Warga Kompak Biayai Swadaya Rp.133 Juta
Lakon “Wahyu Kamulyan Sejati” Jadi Simbol Harapan Kemakmuran dan Kerukunan Warga Desa Gandarum Kajen Pekalongan

KAJEN | rakyatcerdas.my.id – Suasana penuh kebersamaan dan semangat nguri-uri budaya Jawa terasa begitu kuat dalam gelaran Sedekah Bumi Desa Gandarum, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Minggu malam (17/5/2026). Ribuan warga memadati lokasi pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang Ki Sigid Ariyanto, S.Sn dengan lakon “Wahyu Kamulyan Sejati”.

 

Kegiatan budaya yang dimulai sekitar pukul 20.23 WIB tersebut bukan sekadar hiburan rakyat semata, melainkan menjadi simbol kuatnya solidaritas sosial masyarakat Desa Gandarum dalam menjaga tradisi leluhur sekaligus mempererat kerukunan antarmasyarakat.

 

Kepala Desa Gandarum, Agus Suyudono, dalam keterangannya menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan sedekah bumi itu murni berasal dari swadaya masyarakat tanpa adanya bantuan dari pihak luar desa.

 

Menurutnya, Pemerintah Desa hanya menjadi fasilitator atas keinginan bersama masyarakat yang sejak awal bersepakat untuk menjaga tradisi sedekah bumi sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan.

 

“Alhamdulillah malam ini kegiatan sedekah bumi dapat terlaksana dengan baik berkat kebersamaan masyarakat dan lembaga desa. Ini benar-benar murni swadaya masyarakat sepenuhnya. Pemerintah desa hanya menjadi sarana untuk mewadahi keinginan masyarakat demi menjaga kerukunan dan kebersamaan,” ujar Agus Suyudono.

 

Ia menegaskan, kegiatan tersebut bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh warga Desa Gandarum sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa keselamatan bagi desa yang ditempati bersama.

 

Agus menjelaskan, semangat gotong royong warga terlihat nyata dalam pengumpulan anggaran kegiatan yang mencapai total sekitar Rp133 juta. Dana tersebut berhasil dipenuhi berkat kerja keras panitia, dukungan para pelaku usaha desa, serta partisipasi masyarakat dari seluruh RT.

 

“Tidak ada dukungan motor dari luar. Ini murni keinginan masyarakat sendiri. Karena masyarakat merasa kegiatan ini penting untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan desa,” tambahnya.

 

Tradisi sedekah bumi di Desa Gandarum sendiri telah menjadi agenda rutin yang disepakati bersama untuk dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Menurut Agus, kegiatan budaya semacam ini menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas sosial masyarakat desa sekaligus mendukung program pemerintah desa di bidang sosial budaya.

 

“Harapannya ke depan selama saya menjabat kepala desa, apa yang menjadi kehendak masyarakat dan program desa demi kepentingan bersama akan terus kami dukung sepenuhnya,” tegasnya.

 

Sementara itu, Ketua Panitia Subur Purnomo dan seksi usaha kegiatan, Budi Manyuro, menjelaskan bahwa proses pengumpulan dana dilakukan secara transparan dan telah disepakati bersama seluruh elemen masyarakat.

 

Ia menyebutkan bahwa sebanyak 32 RT di Desa Gandarum ikut berpartisipasi dalam iuran kegiatan, ditambah bantuan para donatur dari warga desa sendiri.

 

“Semua sudah disepakati bersama seluruh RT. Alhamdulillah masyarakat mendukung penuh dan sampai saat ini tidak ada yang protes karena masyarakat memahami bahwa kegiatan ini adalah bagian dari sedekah bumi dan nguri-uri budaya Jawa,” ujarnya.

 

Menurut Subur Purnomo, inti dari sedekah bumi adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan, hasil bumi, serta kehidupan masyarakat yang selama ini dijalani bersama.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa pada pelaksanaan sebelumnya sempat terdapat gunungan hasil bumi dan berbagai kirab budaya. Namun untuk tahun ini, konsep kegiatan lebih terfokus pada pagelaran wayang kulit dan penguatan kebersamaan masyarakat.

 

Pagelaran wayang kulit dengan lakon “Wahyu Kamulyan Sejati” dipilih bukan tanpa alasan. Lakon tersebut diharapkan menjadi doa dan simbol harapan agar masyarakat Desa Gandarum senantiasa memperoleh kesejahteraan, kesejahteraan, dan kehidupan yang sejati.

 

“Mudah-mudah melalui lakon ini masyarakat Desa Gandarum bisa hidup mulya lan sejati, hidup penuh keberkahan, rukun, dan sejahtera,” ungkap Agus Suyudono.

 

Malam budaya itu pun berlangsung meriah. Warga dari berbagai kalangan tampak antusias menyaksikan pertunjukan hingga larut malam. Nuansa kekeluargaan dan gotong royong benar-benar terasa dalam setiap rangkaian acara.

 

Di tengah modernisasi yang terus berkembang, Sedekah Bumi Desa Gandarum menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai perekat sosial yang mampu menjaga keharmonisan dan persatuan warga desa.

Ad
Iklan media
Berita | Rakyat Cerdas

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp